Sedikit demi sedikit mereka turun, menguapkan wangi bumi yang kupijak ini. Membasahi helai demi helai rambutku, menyentuh tiap inci kulitku, mengalir di setiap lekuk di wajahku, ketika sampai akhirnya mereka turun berkubu, tak lagi sendiri. Menyerangku tanpa ampun, sebelum aku siap melawannya.
Hujan...
Tanpa ampun mereka menyerangku sampai ke titik yang paling tidak aku inginkan. Hey! Mengapa kalian harus menguapkan segalanya? Terlalu banyak yang kupendam di dalam yang bahkan aku tak ingat kalau mereka ada. Sebut saja mereka kenangan. Hatiku saja tak cukup tega untuk menyatakan bahwa segala yang kupendam itu hanyalah kenangan.
Tetesan-tetesanmu mengingatkanku pada wajahnya, yang pada suatu malam kami terguyur air hujan bersama. Bagaimana tangannya membasuh wajah bersihnya, merapihkan setiap helai rambutnya yang terlanjur basah. Beri tahu padaku, bagaimana bisa aku tak mengingat sorot matanya yang membuat darahku berdesir begitu cepatnya? Yang sekali lagi membuat oksigen berdesakan di dalam dada, dan yang pasti membuat kupu-kupu aneh berkepak di dalam perutku.
Guyuran air hujan mengingatkanku pada punggungnya, lengan kecilnya, dada bidangnya, dan bahu kesukaanku yang pada suatu malam terguyur hebat dan menonjolkan setiap inci tulang dibalik kulitnya. Mungkin dia takkan pernah tau seberapa hebatnya aku mengingat hal kecil yang bahkan tak terpikirkan oleh dirinya. Cukup aku dan memoriku yang mampu merefleksikannya, tak butuh pensil, buku sketsa, dan bahkan tangan seorang ahli untuk merealisasikan apa yang aku deskripsikan, sebab itu takkan pernah cukup untuk membuatnya mengerti.
Untung saja gelegar sang petir menyadarkanku. Mengingatkanku akan kilat aneh di matamu, yang menghilangkan semua kupu-kupu aneh di perutku dan membiarkan monster kesedihan memakan mereka semua . Lalu pada akhirnya membuat darahku berdesir makin cepat dan membuatku ingin memuntahkan jantungku sendiri. Menolak setiap oksigen yang berusaha kuhirup dan membuatku menahan segala kata yang seharusnya kuucap.
Bahkan sampai sekarang aku masih tak mengerti, apa maunya dari kilat aneh yang menyeruak di matamu itu. Tak jelas, kabur.
Sama seperti hujan yang kini mengaburkan air mata di wajahku.
No comments:
Post a Comment