Tuesday, February 4, 2014

persetan


aku merasakan benci yang teramat sangat ketika mendapati diriku sedang memikirkanmu. yang jelas bukan berharap kau kembali , karena hal itu tak akan terjadi . bukan juga karena aku masih bertanya "Kenapa kita harus berhenti?" "Adakah jalan yang lain?" "Apa kita hanya ditakdirkan selama 1 tahun 4 bulan?" "Mengapa harus secepat ini?" "Bagaimana kalau waktu itu aku tak menyerah?"

kau tau ? Aku lelah dengan segala pertanyaan kosongku itu.

bolehkah aku membencimu karena keterlambatanmu untuk menyadari bahwa aku menyadari kesalahanku sendiri? bahkan sebelum kau menyalahkanku atas segala kesalahanku, diriku sendiri sudah menyalahkanku atas segala kesalahan yang kau tuduhkan kepadaku. mengapa kau masih menyalahkanku atas kesalahan yang menurutmu tak kusadari? bahkan sebelum kau menyalahkanku, aku sudah meminta maaf sebelum kau minta. 

tak sadarkah ?

aku benci mendapati orang berkata padaku

"Kenapa segalanya harus berakhir?"
bolehkah aku hanya berkata “Tanyakan saja padanya” Jangan tanya padaku, ataupun air mataku. Mereka sudah pergi jauh sebelum kalian tanyakan ini padaku. Tanya semua yang ada di situ, bahkan angin di lapangan sepak bola pun sangat amat mengetahui apa yang terjadi

 "Mengapa kau menyerah?"
kau tanya mengapa? bolehkah aku bertanya padamu, apakah kau pernah mendengar cerita pahlawan yang mati di medan perang sekalipun dia sudah berjuang? anggap saja aku pahlawan itu, karena sebenarnya aku tidak menyerah. tapi aku terbunuh.

"Bodohnya dia..."
begitukah? kalau begitu jangan bilang padaku. apa peduliku jika dia bodoh atau tidak? biar jadi urusan dia, otaknya dan hatinya.

"Bukankah itu hal yang biasa?"
memang biasa, tapi hal itu tidak biasa jika terjadi pada orang yang tidak biasa.

"Padahal kau beruntung mendapatkan dia"
bisakah kalian tutup mulut atas perkataan sialan ini? seberapa hinanya aku? seberapa sempurnanya dia? kau boleh memuji keberuntunganku ketika aku mendapatkan si buruk rupa dengan hati yang tampan. tapi  jangan lagi kau memujiku ketika aku mendapatkan si tampan dengan hati yang buruk rupa , itu sama saja kau menghinaku.

tak bisakah aku segera mendapatkan bahagiaku? yang jelas bahagiaku sendiri, bukan lagi atas bahagiamu. mendapati dirimu bahagia itu sudah lebih cukup bagiku, jadi bolehkah aku tak peduli lagi? karena tanpa bertanyapun aku sudah melakukannya. biar bahagiamu jadi urusanmu sendiri,

biar esok hari aku kan sangat bahagia ketika aku bahagia atas kebahagiaan yang sangat kunanti.