aku merasakan benci yang teramat sangat ketika mendapati
diriku sedang memikirkanmu. yang jelas bukan berharap kau kembali , karena hal
itu tak akan terjadi . bukan juga karena aku masih bertanya "Kenapa kita
harus berhenti?" "Adakah jalan yang lain?" "Apa kita hanya
ditakdirkan selama 1 tahun 4 bulan?" "Mengapa harus secepat
ini?" "Bagaimana kalau waktu itu aku tak menyerah?"
kau tau ? Aku lelah dengan segala pertanyaan kosongku
itu.
bolehkah aku membencimu karena keterlambatanmu untuk
menyadari bahwa aku menyadari kesalahanku sendiri? bahkan sebelum kau
menyalahkanku atas segala kesalahanku, diriku sendiri sudah menyalahkanku atas
segala kesalahan yang kau tuduhkan kepadaku. mengapa kau masih menyalahkanku
atas kesalahan yang menurutmu tak kusadari? bahkan sebelum kau menyalahkanku,
aku sudah meminta maaf sebelum kau minta.
tak sadarkah ?
aku benci mendapati orang berkata padaku
"Kenapa segalanya harus berakhir?"
bolehkah aku hanya berkata “Tanyakan saja padanya” Jangan
tanya padaku, ataupun air mataku. Mereka sudah pergi jauh sebelum kalian
tanyakan ini padaku. Tanya semua yang ada di situ, bahkan angin di lapangan
sepak bola pun sangat amat mengetahui apa yang terjadi
"Mengapa kau menyerah?"
kau tanya mengapa? bolehkah aku bertanya padamu, apakah
kau pernah mendengar cerita pahlawan yang mati di medan perang sekalipun dia
sudah berjuang? anggap saja aku pahlawan itu, karena sebenarnya aku tidak
menyerah. tapi aku terbunuh.
"Bodohnya dia..."
begitukah? kalau begitu jangan bilang padaku. apa
peduliku jika dia bodoh atau tidak? biar jadi urusan dia, otaknya dan hatinya.
"Bukankah itu hal yang biasa?"
memang biasa, tapi hal itu tidak biasa jika terjadi pada
orang yang tidak biasa.
"Padahal kau beruntung mendapatkan dia"
bisakah kalian tutup mulut atas perkataan sialan ini?
seberapa hinanya aku? seberapa sempurnanya dia? kau boleh memuji keberuntunganku
ketika aku mendapatkan si buruk rupa dengan hati yang tampan. tapi jangan lagi kau memujiku ketika aku
mendapatkan si tampan dengan hati yang buruk rupa , itu sama saja kau menghinaku.
tak bisakah aku segera mendapatkan bahagiaku? yang jelas
bahagiaku sendiri, bukan lagi atas bahagiamu. mendapati dirimu
bahagia itu sudah lebih cukup bagiku, jadi bolehkah aku tak peduli lagi? karena
tanpa bertanyapun aku sudah melakukannya. biar bahagiamu jadi urusanmu sendiri,
biar esok hari aku kan sangat bahagia ketika aku bahagia
atas kebahagiaan yang sangat kunanti.
nice, :)
ReplyDelete